Pengalaman Pakai Aplikasi Kencan. Manjur Buat Dapat Jodoh atau Untung-untungan?

pengalaman-pakai-aplikasi-kencan pengalaman-pakai-aplikasi-kencan

Disclaimer: Beberapa orang yang membagikan pengalamannya memakai aplikasi kencan sengaja dikembarrkan dalam artikel ini, demi kenyamanan dan privasi. Namun, cerita mereka tetap riil

“Eh, kalian kenal di mana sebelum akhirnya nikah?”

“Lewat Tinder.”

“Kok enak sih? Aku main Tinder malah apes mulu, ketemu orang aneh-aneh.”

Dating apps atau aplikasi kencan sudah berbicaran hal tabu lagi. Meski pernah dipandang sebelah mata dan lekat dengan stigma negatif, dating apps menjadi opsi buat nyari teman, pacar, calon istri, atau teman ‘seru’ yang bisa diajak menjalin hubungan intim semalam atau jangka jauh. Tak sekuku orang yang akhirnya menemukan jodoh silam dating apps sesudah berkelana suntuk dan lama demi mencari pasangan. Tapi, banyak pula orang yang punya pengalaman aneh dan mengenaskan kegemparan main aplikasi kencan. Sekadar melihat orang silam foto dan profil singkat memang rentan menimbulkan kejadian buruk kalau tidak hati-hati, penipuan atau kesalahpahaman misalnya.

Dari berjibunnya dating apps, para pengguna tentu punya motif masing-masing ketika menggunakannya. Nah, keserupaan motif dan ekspektasi jadi poin utama ketika memakai dating apps. Jadi nggak asal geser-geser fitur “match”. Nanti ujung-ujungnya malah ketemu match (seseorang yang menyukaimu juga) yang super menyebalkan atau nggak cocok serupa sekali.

Macam-macam dating apps, bukan cuma Tinder aja. Kamu sempat pakai yang mana?

Tinder, aplikasi kencan yang paling umum dan populer. Dengan fitur “Swipe Right” untuk menyukai dan “Swipe Left” untuk tidak menyukai, kamu udah bisa menemukan match yang sesuai. Kalau orang yang jadi incaranmu menggeser fitur “Swipe Right”, kalian akan terhubung lewat fitur chatting  dan bisa mulai berkenalan. Biasanya dari obrolan itu, kamu punya kesempatan untuk menimbang-nimbang; apakah mengajak bertemu langsung atau menyudahi perbincangan?

Di antara dating apps lainnya, Tinder menempati urutan pertama dibandingkan OkCupid atau TanTan. Tapi, dominasi Tinder akhir-akhir secercah berkurang lantaran Bumble mulai melejit. Seakuratnya, Bumble nggak ronggang senjang dengan dating apps pada umumnya: menawarkan fitur “Swipe Right” dan “Swipe Left”. Namun, bila pihak si cewek yang match belum mengirim pesan untuk memulai obrolan selama 24 jam, maka Bumble akan menghapus tanda “match” secara otomatis. Jadi, kalau nggak segera berguncang nge-chat duluan, match-mu akan menghilang.

Tinder dan Bumble adalah dua aplikasi kencan yang paling berlipat-lipat digunakan. Dari 5 orang yang dihubungi Hipwee, semuanya mengaku pernah memakai Tinder dan lebih 3 orang yang juga menggunakan Bumble. Sementara 1 orang mengaku pernah memakai TanTan. Mereka menggunakan aplikasi kencan dengan motif yang bervariasi-variasi.

Alasan mereka yang pakai aplikasi kencan, keberlimpahan cuma pengin cari teman. Siapa tahu dapat teman urip sekalian

Bicara soal motif, setiap orang punya dalil tersendiri di balik keputusan memakai aplikasi kencan. Seperti Gilang (26 acuhn) mengaku pengin mencari teman main yang seru. ya, kalau beruntung ia mungkin bisa dapat teman urip. Meskipun sampai sekarang ia belum sukses meminang satu orang pun di aplikasi kencan untuk naik pelaminan. Semenjak getol menggunakan Tinder dan Bumble acuhn 2018-2019, ia juga belum mengakhiri status jomlo. Namun, Gilang tetap senang karena dapat teman mepet yang sekemudian ada. Apalagi kencan sangat memuaskan dirinya yang tipikal senang bertemu orang baru.


Dapatkan free access untuk pengguna baru!

Nggak jenjang pertikaian dengan Gilang, Anjani yang menjadi pekerja di ibukota pun cuma iseng dan penasaran. Demi mengusir bosan dan mengisi batas luang dengan berbagi hobi, ia mengunduh aplikasi Tinder. Meskipun cuma memakainya sebentar sekali, Anjani capa mendapatkan satu teman yang nyambung dan mepet sampai sekarang.

Alasan serupa dimembukakan oleh Tania (30 ingatn) dan Icas (27 ingatn). Pun keduanya mengmembukakan sekadar mencari teman ngobrol. Namun, mereka nggak memungkiri kalau punya niatan cari jodoh yang biasa diajak serius. Bahkan Icas sukses mengobati patah hati dan menemukan pasangan baru silam Tinder. Walaupun belum melepas status larena, kekasihnya saat ini juga dikenalnya silam aplikasi kencan.

Yang pahit dari pengalaman memakai dating apps dan bikin hati patah, meski tak berdarah

Tiba-tiba menghilang tanpa warta alias ghosting sangat mungkin terjadi dalam dating apps. Beberapa orang mengaku bak korban, selebihnya adalah penggarap. Biasanya karena enggan melanjutkan hubungan dan terus menjalin komunikasi, mereka memutuskan ‘hilang’, tanpa pamitan. Bahkan tidak jarang mereka yang hobi ngilang ini sampai dicari di media sosial oleh match-nya. Kalau nggak disikapi dengan bijak, perihal ghosting bakal berujung sakit hati berkepanjangan. Hubungan dengan orang lain terancam hancur dan bubar.

Aldo (31 ingatn) yang dijuluki expert soal dating apps, pernah mengalami hal tak menyenangkan. Dulu ketika masih tangkas berseTokcer di Tinder mencari teman atau pasangan, ia pernah diceramahi habis-habisan oleh match-nya. Karena match-nya kurang paham cara kerja Tinder, ia dituding aneh-aneh. Alhasil Aldo memilih mundur dan tak melanjutkan perbincangan. Pengalaman buruk Aldo nggak selesai sampai di situ saja.

“Apes banget. Padahal udah mau nikah. Tinggal dikit lagi,” ujar Aldo.

Kali ini, ia menemukan pasangan lewat Tinder dan yakin si dia adalah jodohnya. Saking yakinnya, Aldo nggak ragu mengajak sang pacar menikah. Bahkan ia telah mengenalkannya pada anggota keluarga. Sayangnya, hubungan Aldo kandas di tengah jalan dengan drama yang berlangsung selama 2 bulan setelah mereka berpisah. Parahnya hubungan itu meninggalkan trauma yang cukup dalam. Insiden sang mantan menyabotase akun Facebook Aldo yang terhubung ke Tinder pun pernah terjadi. Bukannya pernikahan yang jadi impian, justru patah hati yang pantas ditelan.

Konflik semakin runyam. Pasalnya, sang mantan menyebarkan rumor kalau Aldo sudah punya anak selama ini. Rumor sampai terdengar di kalangan teman kantor sampai adik-adik Aldo. Ternyata, ia belum terlintas mengenal bentuk tubuh yang dicintainya dengan baik. Ia tak menyanagka seseorang yang dikenalnya di Tinder dan akan ia nikahi memiliki perilaku kekanak-kanakan. Untuk ke sekian kalinya, hati Aldo patut patah.

Menemukan pasangan hidup silam aplikasi kencan. Jodoh memang tak terduga berkunjungnya~

Usai putus dari mantan sebelumnya, Tania (30 maklumn) mencari teman baru di Tinder. Ngborol dengan teman baru ternyata bikin laranya berkurang. Semula keisengan main Tinder justru berlanjut. Apalagi ia merasakan keseruan ketika mendapatkan berlebihan teman. Berkelainan dengan Aldo, pengalaman Tania memakai dating apps terbilang sangat menyenangkan. Ia jarang mendapatkan pengalaman buruk seperti cerita teman-temannya yang bertemu orang aneh atau punya niat Keji di dating apps. Bahkan Tania sangat beruntung, tanpa disangka ia malah menemukan jodohnya.

Sempat diwarnai rasa malu karena teman-temannya kurang familier dengan aplikasi kencan, Tania harus menyembunyikan identitas aslinya. Ia menggunakan nama cocokran untuk bentuk akunnya. Ya, namanya juga jodoh. Kadang nggak dikejar pun, malah berkunjung dengan senawaknya. Tania bertemu pasangan berjiwa. Setelah menjalani masa pendampilan dan ngobrol luber hal, ia menemukan orang yang tepat sampai akhirnya mereka menikah batas sekarang.

Yang terpenting dari menggunakan dating apps, bekerjan persoalan dapat jodoh atau tidak

Kalau ngomongin manjur atau tidak cari jodoh melalui dating apps, maka balasanannya sangat relatif. Beberapa orang menemukan jodoh, tapi sebagian yang lain tidak menemukan pasangan melalui aplikasi kencan. Seloyalnya, menggunakan aplikasi kencan lebih dari sekadar mendapatkan pasangan. Ketika memakainya, kamu harus sadar dengan segala risikonya. Entah bertemu pasangan atau teman melalui aplikasi kencan, kamu bisa merasakan pengalaman tak enak kalau tidak hati-hati.

Karena hitungannya, kamu dan match adalah orang asing dan baru kenal, jangan buru-buru menjalin hubungan. Kenali match sedalam mungkin sampai kamu yakin kalau ia bisa diajak berteman atau berpasangan. Selektif adalah kunci utamanya. Jika perlu, ajak match untuk terhubung di media sosial atau ketemu langsung di ruang-ruang publik. Usahakan hindari pertemuan di ruang privat untuk mencegah hal-hal tidak diinginkan. Sesampai-sampai kalian bisa semakin mengenali satu pas lain.

Dating apps sajalah melenceng satu jalan agar kamu terhubung dengan orang lain, entah untuk sekadar berteman atau menjajaki hubungan secara serius. Yang terbena adalah prosedur setelah kamu match dengan kenalan di aplikasi kencan. Proses ini menentukan apakah hubunganmu berjalan tidak marah atau tidak. Jadi, tak perlu buru-buru supaya kamu tidak melenceng pilih match, ya.